Salah satu nikmat Tuhan yang sering
di sepelekan manusia adalah nikmat sehat. Karunia ini baru dirasakan begitu
berharga setelah manusia dicubit oleh rasa sakit : yang dicubit stroke baru
melek akan nikmat berjalan, yang disentak sariawan langsung sadar akan bahagia
bermulut sehat, yang dirisak galau kufur nikmat pada dia yang selalu
menerbitkan bahagia, yang jomblo akut keep istiqomah di jalan yang baik-baik
yah! Kok bisa nyasar ke jomblo :-)
Jum'at dress kali ini bertema
coklat. Husain mengenakan jubah pemberian Ummi ; saya memakai baju koko
pemberian ayah mertua ; adik saya memilih baju batik pemberian saya.
Masjid yang kami pilih masih sama
dengan jum'at yang lalu : musholla kampus muhammadiyah.
Ini kali kedua saya mengajak husain
sholat jum'at bareng. Tadinya masih ragu ngajak anak 2,5 tahun ke masjid.
Takutnya dia ngamuk-ngamuk atau nangis sambil guling-guling. Kan bisa berabe.
Diriwayatkan ummu husain dari mas
tong-tong yang sering lewat depan rumah : "Bocah itu (baca : Husain)
membawa es krim dengan kedua tangannya. Namun naas, karena tak melihat butiran
pasir di depan jalan, kakinya terpeleset dan jatuh. Tangis anak itu pecah
sejadi-jadinya. Bukan karena perihnya luka, tapi karena es krimnya tumpah
berceceran di tanah.
Semua manusia sama, tak ada yang luput dari masalah.
Yang beda, bagaimana menyikapinya. Ada yang suka menghadapi masalah dengan sharing
bersama teman ; ada yang mencoba menghilangkan masalah dengan curhat ; ada yang
melampiaskan pada hal-hal negatif--narkoba atau meneguk minuman keras ; ada
juga yang alay menumpahkan masalah dengan mengeluh via medsos. Dua hal yang
saya sebut terakhir, sebaiknya dihindari.
Berdasarkan hasil pengamatan papa muda, sebagian besar
kejahilan husain, terjadi karena dia ingin diperhatikan. Ingin dimengerti.
Ingin diajak main.
Biasanya, jika tak bertemu kawan main, giliran orang
tua yang dipaksa main. Mau tidak mau, harus mau. Sibuk tidak sibuk, harus
sisihkan waktu untuk anak. Jika tidak, bersiaplah dikerjain dengan kejahilan
dan tingkah lebaynya.
Untuk
apa anda belajar?
Pertanyaan
ini mungkin sederhana, namun jawabannya bisa njlimet jua berbeda beda.
Tergantung personnya masing-masing.
Malam
ini saya bertemu lagi dengan anak anak cerdas di elfarooq writing class. Kelas
ini berisi 9 anak yang memiliki kelebihan masing masing : Ada atin yang bijak
dan pengen jadi guru agama ; Ada si cantik imel yang bercita cita jadi
pramugari ; Ada si lembut feti yang rindu jadi guru; Ada desra yang penuh kasih
sayang; Ada putri yang malu malu namun selalu membantu teman; Wanda yang riang
dan selalu tersenyum; Nanda yang super duper kreatif;
Elsa yang begitu ramah; Jua sofia yang riang dan piawai merangkai kata kata.
Tak ketinggalan saya, guru muda lulusan sarjana industri. Hehehe... jurusan
saya memang tidak nyambung.
Cinta adalah penjara yang ngangenin.
Yang membuat penghuninya bahagia dijeruji. Seperti yusuf yang memilih bui
tinimbang berkasih dengan zulaikha, cinta membuat kita kangen dibelenggu.
Tersipu genit dirantai rindu.
Nak, pernahkah kau lihat cacing,
mahluk kecil tak berkaki yang mengeluh sambil membentur-benturkan kepalanya di
dinding? Atau elang yang menukik tajam ke bebatuan karena frustasi tak mendapat
mangsa? Ketahuilah, hanya manusia, mahluk yang manja pun piawai berkeluh kesah.
Romantis diawal nikah itu biasa.
Namun jika masih bebs-bebsan diusia tua, itu baru luar biasa.
Saya kerap terpukau dengan pasangan
tua yang selalu romantis. Yang masih genit-genitan walau sudah bau tanah. Yang
suka belai-belaian meski kulitnya penuh keriput. Yang doyan sun-sunan walau
giginya tinggal dua.
Siapa bilang kita dijajah belanda
350 tahun dan jepang 3,5 tahun. Memang apa yang dijajah? negara? Wong negara
ini baru lahir tahun 1945.
Saya sependapat dengan presiden
negeri jancuk (sudjiwo tedjo) : Yang dijajah bukan negara, melainkan sebagian
kerajaan di nusantara. separuhnya lagi, tetap berjuang hingga tetes darah
penghabisan.
Selain wadah menampung kebahagian,
menulis adalah rapor perkembangan anak. Dengan merekam setiap moment bersama
husain, tak sadar saya mengumpulkan informasi berharga tentang anak saya. Mulai
dari perkembangan aksara, suasana hati, minat, bakat, atau perkembangan fisik.
Seperti kemarin, saya baru tahu kalau pipinya sudah mulai tembem dan agak
gemukan.
Kalau tidak salah, marlyn monroe
pernah berkata "anak yang kurang mendapat kasih sayang ayah, akan mencari
mencari kasih sayang ayahnya dari ranjang ke ranjang lelaki lain"
Melihat pola pergaulan anak muda
sekarang, saya merasa ngeri bercampur pilu. Baru baru ini koran lokal
mewartakan tindak perkosaan seorang guru ngaji di Buton tengah. Korbannya
adalah anak yang kebetulan masih bersebelahan rumah. Di Buton selatan, seorang kakek
tega memperkosa cucunya sendiri. Edannya, tindak bejat itu telah digarap selama
dua tahun. Di sekolah unggulan kota baubau santer terdengar foto ciuman dan
kasus aborsi. Eh, bocah ingusanpun tak mau ketinggalan, dengan gilanya mereka
melakukan tindakan tak senonoh di dalam kelas di sekolah dasar negeri wilayah
lamangga.
Alkisah, hiduplah seorang pemburu kesepian yang berkawan dengan
beruang yang juga kesepian. Sebagaimana hukum dari persahabatan ( jiwa hanya bersua
dengan yang identik) kedua mahluk ini berjodoh dalam sepi. Dimana ada beruang
disitu ada pemburu yang menemani. Pun sebaliknya, disaat si pemburu galau, sang
beruang jua penerbit riang.
Setelah 'berpayung awan', celoteh husain yang memukau teranggit
juga hari ini. "Abi, antar husain ke bulan"
Iya nak, abi akan mengantarmu kemana saja : Menjelajahi tujuh
benua, lima samudera, bergelantungan di bulan, memetik bintang atau menyelami
langit-langit semesta.
Baru
saja saya membaca buku hebat dari seorang psikolog pendidikan dunia. Namanya,
Dr. Silberman. Buku hebat itu berjudul Active learning yang berisi 101 strategi
mengajar aktif di kelas.
Seperti
biasa, saya membacanya random. Mulai menguliti daftar isi yang menggigit.
Bingo, jari saya tergigit disatu judul strategi yang unik ; Learning Jurnal. Strategi ini berbicara tentang jurnal belajar. Intinya, setiap siswa diakhir pembelajaran menjelaskan tentang pengalaman dalam belajar : apa yang tidak dimengerti, kemampuan guru mengajar, suasana kelas, atau kondisi hati, pikiran bahkan lamunan dalam kelas. Pengalaman-pengalaman itu dituangkan dalam satu jurnal belajar.
Husain sudah tidur. Umminya juga ikut ikutan tepar tak
mau diganggu. Jadilah papa muda sendiri malam ini. Tak ada yang menemani.
Biasanya husain jago bergadang. Bocah itu selalu saja
kreatif menyibukan bapaknya. Entah bercerita tentang perseteruannya bersama uut
atau bermain rumah-rumahan.
"Abi, mau? Kelapanya enak. Mari ummi suap"
Jangan sayang, kegenitan kita mendzolimi kaum jomblo. Romantis
disela kesendirian orang lain adalah dosa sosial. Bisa saja ada jomblo yang
rapuh jiwanya lagi menatap kita. Bisa jadi dia mengutuk diri sambil memamah
kelapa lengkap dengan tempurungnya. Just kidding mas bro! jangan disila ke
hati.
Cinta adalah penjara yang ngangenin. Yang membuat penghuninya
bahagia dijeruji. Seperti yusuf yang memilih bui tinimbang berkasih dengan
zulaikha, cinta membuat kita kangen dibelenggu. Tersipu genit dirantai rindu.
Ada yang menarik dari pelaksanaan UN Tahun 2014. Nurmilati
Abadiah, siswi SMA Khadijah Surabaya, melayangkan surat terbuka untuk menteri
pendidikan Indonesia. Surat yang berjudul “Dilematika UNAS: Saat Nilai Salah
Berbicara” begitu berani menantang Muh. Nuh untuk mengerjakan soal UN.
“Saya tantang Bapak untuk duduk dan mengerjakan soal Matematika
yang kami dapat di UNAS kemarin selama dua jam tanpa melihat buku maupun
internet.Jika Bapak bisa menjawab benar lima puluh persen saja, Bapak saya akui
pantas menjadi Menteri. Kalau Bapak berdalih 'ah, ini bukan bidang saya',
lantas Bapak anggap kami ini apa? Apa Bapak kira kami semua ini anak OSN? Apa
Bapak kira kami semua pintar di Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Bahasa
Indonesia, dan Bahasa Inggris sekaligus? Teganya Bapak menyuruh kami untuk
lulus di semua bidang itu?”
Surat Nurmilati bukan surat biasa. Surat itu mewakili air mata
8.970 siswa SMA/MA dan SMK se-Indonesia yang tidak lulus UN 2014. Ribuan siswa
dikategorikan tidak lulus hanya karena nilai UNnya tidak memenuhi standar
kelulusan yang oleh Badan Standarisasi Nasional Pendidikan (BSNP) ditetapkan
nilai akhir paling rendah adalah 5,5 dan setiap mata pelajaran paling rendah
mendapat nilai 4,0.
Apa sih kesaktian Empat koma nol dan lima koma lima itu? Kurang
0,0001 aja, Siswa harus menelan pil pahit dari pendidikan yang dijalaninya
selama 3 tahun. Dengan angka sakti itu juga kualitas anak anda bisa ditentukan,
apakah pantas melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi atau tidak. Anak Anda
mungkin hafidz Al-Quran, namun jika tidak bisa menjawab soal kimia maka
pupuslah kesempatan kuliah di fakultas pendidikan agama islam. Adilkah itu?
Demikian juga dialami Siti Hapsah, Siswi yang selalu menduduki
peringkat satu dan juara umum dinyatakan lolos seleksi sebagai mahasiswa
jurusan gizi Masyarakat dan Sumber daya keluarga IPB melalui jalur Penelusuran
Minat dan Kemampuan (PMDK). Sayangya melati tidak bisa melanjutkan pendidikan
karena tak lulus ujian nasional lantaran nilainya kurang 0,26.
(nasional.news.viva.co.id)
Sungguh keramat ketetapan angka BSNP.Dengan deretan nilai itu
saja, UN telah membuat trauma siswa senusantara.Virginia Endah, Siswi SMA
Pancasila 1, nekat menenggak cairan pengharum ruangan, meski nilai UN belum
diumumkan secara resmi. Di SMKN 3 Muara Jambi, Wahyu Ningsih mengakhiri
hidupnya dengan makan obat pestisida gara-gara tidak lulus UN. Di kampung saya,
gagal UN bisa jadi aib seumur hidup bahkan sampai 3 turunan.Ironis memang.
Pendidikan Indonesia cukup unik. Negeri heterogen dengan 350
etnis suku serta 483 bahasa dan budaya harus distandarisasi kecerdasan
bangsanya melalui beberapa mata pelajaran (Mapel) pilihan.Terus yang memiliki
kecerdasan selain Mapel pilihan itu gimana? Bisakah kita menerima penilaian
tunggal UN yang menitik beratkan pada kemampuan kognitif? Atau adakah penilain
lain yang lebih manusiawi dalam melihat kecerdasan siswa?
Multiple intelligence sebagai pandangan baru yang menghargai
ragam kecerdasan anak,mencoba menawarkan system penilaian humanis. Namanya
penilaian otentik. Berbeda dengan penilaian sebelumnya yang Kognitif Minded,
Penilaian otentik merekam semua kecerdasan anak meliputi keterampilan berpikir
(kognitif), keterampilan berkarya (Psikomotorik), serta Keterampilan bersikap
(afektif). Anak tidak hanya dinilai dari secarik kertas, tapi juga dari
kesantunanya bertutur, kesopanan, kejujuran, tanggungjawab termasuk sikap
social dan spritual.
Penilaian otentik juga memangkas budaya lama yang menyesatkan.
Konsep rangking-rangkingan tidak dianut lagi dalam penilaian ini.Sebagai
gantinya Penilaian otentik bermahzab Ipsative,hasil belajar siswa dinilai dari
perkembangan siswa itu sendiri sebelum dan sesudah mendapatkan materi
pembelajaran (Munif Chatib, Sekolahnya manusia 2014).
Dengan konsep ipsative, Kecerdasan anak tidak dibandingkan
dengan anak lain. Setiap anak adalah pribadi yang unik. Setiap anak adalah
juara. Setiap kecerdasan anak tidak dikompetisikan tapi dikolaborasi menjadi
sebuah karya.Kecerdasan dikembalikan hakikat sejatinya. Bukan berwujud Prestise
pada nilai rapor tertinggi melainkan asas benefiditas ; ilmu yang bermanfaat.
Penilaian otentik berbasis proses. Sangat berbeda dengan
penilaian standar yang dilakukan diakhir pembelajaran, biasanya ulangan harian,
mid semester, semester,dll. Penilaian otentik mengapresiasi kerja keras siswa
dalam proses pembelajaran. Kejujuran, kedisiplinan, kerjasama dan berbagai
interaksi siswa dalam pembelajaran,masuk dalam criteria penilaian. Jadi tidak
sebatas tes diatas kertas.
Soal yang berkualitas adalah soal yang dapat dikerjakan. Hal ini
mungkin menggemparkan para guru yang doyan membuat soal sulit. Penilaian
otentik yang bercorak ability test (sesuai kemampuan) menganggap penilaian
sebagai sarana untuk memotivasi. Bukan sarana untuk menjudge siswa mampu atau
tidak mampu. Penilaian otentik dilakukan agar semua siswa berhasil.
Penilaian otentik memberlakukan siswa sebagai pribadi yang unik.
Dengan konsep discovering ability, guru memberikan ruang bagi ragam kecerdasan
siswa dalam menyelesaikan persoalan (test). Jika tidak bisa dijawab secara
tertulis, mungkin bisa didiktekan, dinyanyikan, digambarkan, dibuatkan puisi,
pantun, video atau diproyeksikan dalam gerakan tubuh. Sekali-kali, yuk tantang
murid-murid kita menyelesaikan persoalan IPA dengan puisi.Unik-kan
Keunggulan lain dari penilaian otentik adalah menawarkan lingkungan
yang menarik, aktif, hidup dan menyenangkan.Siswa tak perlu cemas berburu
rangking atau takut nilainya rendah dibanding anak lain. Semua siswa bebas
saling berinteraksi dan bekerja sama dalam pembelajaran.
Bentuk test pun didesain agar multi jawaban. Penilaian otentik
menghindari jawaban tunggal. Sehingga setiap anak dipantik untuk kreatif dalam
menyelesaikan persoalan. Jika menggunakan taksonomi Bloom, Model soal tidak
lagi berkutat pada hafalan (Mengetahui dan memahami) seperti ‘Dimanakah tempat
kelahiran Sultan Hasanuddin?’atau ‘Apa yang dimaksud dengan Ilmu ekonomi?’.
Soal didesain agar memantik High order thingking (Kemampuan analisis,
aplikasi,Sintesis, dan Evaluasi) misalnya,‘Apa yang terjadi jika rakyat yang
dipimpin sultan Hasanuddin tidak berani melawan penjajah?’atau “Bagaimana
pengaruh maraknya penjual nasi kuning terhadap perekonomian kota Baubau?.
Guru-guru juga tidak perlu repot melarang siswa untuk melihat
buku. Wong jawabannya tidak ada di buku. Buku hanya pengantar siswa dalam
memecahkan masalah. Model Open Book ,melatih siswa akrab dengan literasi
informasi dan Menghidupkan otak analitis kreatif (Neokorteks). Berbeda jauh
dengan close book yang cenderung memaksa pada satu jawaban tertentu (Otoriter)
juga sebatas menjiplak isi buku. Kalau tidak salah, einsten pernah berkata,
“Otak saya tidak didesain untuk menghafal, tapi menemukan sesuatu”.
Berbeda dengan rapor standart yang hanya berwujud tulisan pada
lembar kertas.Penilaian otentik menghasilkan produk-produk kreatif yang
bermanfaat. Termasuk Portofolio yang berisi rekam karya siswa selama
pembelajaran. Orang tua juga bisa mengetahui secara kongkret kekurangan dan
perkembangan anak. Hal ini dikarenakan raport otentik menjelaskan secara detail
perkembangan di tiga ranah kecerdasan (Kognitif,Psikomotorik,Afektif) Misalnya
pada ranah Psikomotorik, ‘Dalam menulis kalimat dalam surah An-Nasr, dari segi
perencanaan baik sekali, namun dari segi hasil dan estetika masih memerlukan
usaha bimbingan lebih lanjut’. Bandingkan dengan raport standart,‘matematika :
60’, apa nih artinya? Bidang mana dari matematika yang harus diperbaiki?
kriteria mana yang masih kurang dan butuh bimbingan lebih lanjut?. Masih
abstrak.
Memang dalam pelaksanaan penilaian otentik sebagai standar
penilaian kurikum 2013, masih banyak sekolah dan guru-guru yang mengeluh.
Beberapa sekolah di tanah Buton saja, harus menunda pengambilan rapor otentik.
Sebab musababnya hanya berkutat pada wilayah teknis. “kita mau kata-katai apa
ini rapor?” kata seorang guru yang baru mendapatkan sampel rapor otentik dari
dinas pendidikan. Belum lagi keluhan lain seperti bikin repot, bingung
inputnya, rapor tidak penting lagi karena tidak ada rangkingnya, Kurangnya
sosialisasi dan lain sebagainya.
Namun diluar keluhan teknis itu, substansi penilaian otentik
bukanlah menambah kerepotan tapi meredefenisi makna keserdasan. Lebih humanis
dalam memaknai kecerdasan dari berbagai aspek. Tidak sebatas kemampuan diatas
kertas. Sungguh tidak satupun entitas di planet ini termasuk anak kita yang
tercipta tanpa guna. Semua menggoreskan pena kecerdasannya dalam berbagai rupa.
Laksana pelangi, penilaian otentik menyuguhkan keindahan itu dalam berbagai
warna.
Categories
POPULAR POSTS
-
Bagaimana perasaan Anda jika dibohongi oleh orang yang paling disayangi? Apalagi pembohong itu adalah orang tua kita sendiri? Hati siap...
-
Kalau tidak salah, marlyn monroe pernah berkata "anak yang kurang mendapat kasih sayang ayah, akan mencari mencari kasih sayang ...
-
Yakinlah bahwa menjadi seorang penulis yang baik bukanlah melalui Magical tricks atau Sim salabim abracadabra, tapi hasil dari suat...
-
Stephen king pernah berujar menulis adalah mencipta, dalam suatu penciptaan seseorang mengarahkan seluruh jiwa dan nafas hidupnya. ...
-
Jika perjanjian hudaibiyah berhasil mendamaikan kaum muslimin dan suku quraish. Maka perjanjian taro snack pagi ini berhasil mendamai p...
-
Ada yang menarik dari pelaksanaan UN Tahun 2014. Nurmilati Abadiah, siswi SMA Khadijah Surabaya, melayangkan surat terbuka untuk menter...
-
Mama Jana paham betul bagaimana ikan yang baik untuk parende nya. Tekstur, aroma, dan kesegaran ikan ; bumbu mana yang co...
-
"Abi, mau? Kelapanya enak. Mari ummi suap" Jangan sayang, kegenitan kita mendzolimi kaum jomblo. Romantis disela kesendiria...
-
Malam ini saya bertemu lagi dengan anak anak cerdas di elfarooq writing class. Kelas ini berisi 9 anak yang memiliki kelebihan masing m...
-
Siapa bilang nikah itu enak. Bohong tuh . Bualan belaka. Itu hanya halusinasi bujang yang kelamaan menjomblo. Kenyataan dilapangan just...
Free Writing
- Odong-odong sang preman garong
- Ummi…ada ayam di langit
- Mau ke sekolah abi, mau cari ilmu sampai dapat
- Mengintip bocah berbaju loreng
- Mau dididik kemana anak ini ?
- Bahagia itu sederhana : aku, kau, ummimu dan sepiring pisang epe
- Tenggelamnya Kapal Nabi Nuh
- Sabhangka, sahabat se-perahu.
- Te quiero mucho
- Jenggot abi coklatos
- Parende berbumbu cinta
- Ingin hidup bahagia?, Tulislah tentang cinta.
- Obat anti galau
- Cupang merah marun
- A Bad Dream
- Bravo papa muda
- Surga bukan ditelapak kaki Joda
- Desain Agung Cinta
- Cinta 96 Km
- MOS : Masa Orientasi Sepasang Kekasih
- Cerdas gaul, Cerdas yang dianak tirikan
- Mahasiswa baru di kampus kehidupan
- ‘Kasoami’ untuk Bobbi de Porter
- Konspirasi Jahat
- Eliksir Cinta
- Tendangan Unyu
- My Beautiful Rose
Mengikat Makna
Puisi
Mengenai Saya
- La Anto
- Ayah tiga anak yang susah diam. Founder dan Kepala Sekolah Jelajah Dunia. Menyenangi membaca, menulis, berdiskusi serta bermain dengan Husain,Uwais dan Yugana.
Arsip Blog
Ad Banner
Hidup Adalah Jejak Pengabdian. Diberdayakan oleh Blogger.





















